Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

26 Agustus 2025

The Shadow’s Edge: Pelajaran Karier dari Film Baru Jackie Chan & Tony Leung

The Shadow’s Edge: Pelajaran Karier dari Film Baru Jackie Chan & Tony Leung
Pop Culture × Karier

The Shadow’s Edge: Pelajaran Karier dari Film Baru Jackie Chan & Tony Leung

Film action 2025 yang bikin deg-deg-an — kita tarik benang merahnya ke: dedikasi, teamwork, leadership, dan personal branding.

Jackie Chan kembali ke layar lebar bersama Tony Leung di The Shadow’s Edge (2025). Hampir tiga jam durasinya, tapi banyak penonton bilang waktu berlalu begitu saja — kombinasinya: aksi intens, koreografi laga yang terukur, dan drama karakter yang menempel. Dibalik ledakan adrenalin itu ada banyak hal yang bisa kita pelajari soal kerja: bagaimana totalitas, kolaborasi lintas generasi, dan personal branding bekerja di level profesional.

Catatan singkat: artikel ini bukan sekadar review film — ini analisis pop-culture yang ditarik ke konteks karier. Buat kamu yang kerja remote, freelance, atau lagi naik level, pilih insight yang relevan dan praktikkan.

Kenapa Film Ini Jadi Viral?

Selain nama besar Jackie dan Tony Leung, The Shadow’s Edge berhasil karena ia menggabungkan nostalgia elemen laga klasik Jackie dengan pacing modern dan visual yang mendukung. Ada karakter antagonis bernama Shadow yang dingin dan kejam — itu memberi ketegangan moral yang kuat. Penonton bukan cuma terhibur; mereka diajak menimbang moral, dedikasi, dan konsekuensi tindakan.

“Film bagus itu bukan hanya soal stunt—tapi soal bagaimana cerita memaksa kita mikir ulang tentang etos kerja, kepemimpinan, dan rasa saling percaya.”

Dedikasi Jackie Chan: Work Ethic yang Harus Ditiru

Di umur 71 Jackie masih melakukan banyak adegan fisik. Itu bukti seberapa jauh dedikasi berperan dalam mempertahankan relevansi. Pelajaran buat kerja:

  • Umur bukan alasan untuk berhenti belajar—skill upkeep = investasi karier.
  • Totalitas & konsistensi sering mengalahkan gelar atau label di CV.

Shadow: Tantangan & “Bos Toxic” di Dunia Kerja

Shadow menggambarkan tipe pemimpin yang mengandalkan tekanan — sementara itu mungkin menghasilkan kepatuhan sesaat, loyalitas tidak lahir dari rasa takut. Pelajaran kariernya jelas: strategi bertahan di lingkungan toxic haruslah taktis, bukan reaktif.

Tip taktis: ketika berhadapan dengan pemimpin toxic, dokumentasikan komunikasi, siapkan opsi eskalasi, dan jaga jaringan dukungan (mentor/HR/peers).

Guoguo: Jangan Remehkan yang Kecil

Guoguo, karakter bertubuh kecil dan diremehkan, akhirnya menunjukkan ketangguhan. Ini sangat relatable untuk banyak profesional muda atau mereka yang mengalami bias di kantor. Skill + ketekunan + hasil nyata—itu kombinasi yang sulit dibantah.

Teamwork ala Jackie & Tony Leung

Chemistry antara dua aktor itu mengangkat adegan jadi lebih kuat. Di dunia kerja — terutama remote — teamwork bukan sekadar 'bekerja bersama' tetapi menyangkut komunikasi, pembagian peran yang jelas, dan saling menutup kelemahan.

  • Komunikasi yang jelas dan singkat.
  • Memahami kekuatan anggota tim.
  • Membangun proses untuk menutup celah (backup, SOP, pair-review).

Kritik Film = Self Improvement

Beberapa kritik menyebut film terasa 'bloat' di bagian tertentu. Sama halnya di karier, terlalu banyak tugas non-esensial menggerus fokus. Solusinya: evaluasi rutin, kurangi distraksi, dan fokus pada hal-hal yang berdampak tinggi.

Micro habit: coba weekly review 20 menit — apa yang jadi prioritas minggu ini & apa yang bisa di-skip.

Jackie Chan & Personal Branding

Jackie konsisten sepanjang kariernya — action + humor + moral center. Personal branding di karier mirip: bila kamu konsisten dengan nilai kerja dan voice profesional, orang akan tetap mengingat kamu meski peran bergeser.

Shorts Highlights

  • [INSIGHT 1] Jackie 71 tahun masih nge-stunt: dedikasi > usia.

    Bayangin, umur 71 kebanyakan orang udah mikirin pensiun, tapi Jackie Chan? Dia masih lompat, jatuh, kejar-kejaran kamera, bahkan ngelakuin adegan fisik tanpa banyak stuntman. Ini bukan cuma soal stamina, tapi mindset. Banyak dari kita terlalu cepat nyerah, bilang “aku udah tua”, “aku udah telat mulai”. Padahal usia sering kali cuma angka; yang penting adalah kebiasaan, dedikasi, dan konsistensi. Di dunia kerja, ada banyak orang yang sukses justru setelah umur 40 atau 50. Colonel Sanders bikin KFC di usia pensiunan, Vera Wang jadi desainer sukses setelah 40. Jadi, kalau Jackie bisa nge-stunt di 71, kenapa kita berhenti belajar di 30? Insightnya: jangan biarin umur ngerem kamu. Selama kamu terus upgrade skill, energi, dan value, kamu bisa relevan bahkan lebih dihargai di usia matang. Dedikasi itu bukan fase — itu gaya hidup.

  • [INSIGHT 2 — Work Ethic] Totalitas & konsistensi jadi personal brand.

    Jackie Chan dikenal bukan cuma karena wajahnya, tapi karena “signature”-nya: action + komedi + moral. Itu udah jadi personal brand dia selama puluhan tahun. Sama kayak karier kita: orang ingat kamu bukan dari satu proyek hebat aja, tapi dari konsistensi dan totalitas yang kamu tunjukin tiap hari. Pekerjaan yang diselesaikan dengan detail rapi, komunikasi yang jelas, atau bahkan kepribadian yang bisa diandalkan — semua itu jadi “brand” yang orang kaitkan sama kamu. Bedanya sama pencitraan palsu, branding kayak gini nggak bisa instan. Butuh waktu panjang, kerja kecil yang konsisten, dan nggak gampang menyerah meski capek. Banyak profesional stuck karena lebih sibuk bikin image ketimbang buktiin lewat hasil nyata. Lesson dari Jackie: nggak perlu pamer, cukup biarin kerja kerasmu ngomong sendiri. Dan percaya deh, reputasi yang lahir dari konsistensi itu awet.

  • [INSIGHT 3 — Shadow] Bos toxic: tekanan bikin takut, bukan loyal.

    Karakter Shadow di film ini keras, dingin, dan penuh tekanan. Itu mirip dengan tipe pemimpin toxic di dunia kerja. Mereka mungkin bisa bikin tim patuh, tapi bukan loyal. Perintah jalan, tapi trust hancur. Insightnya: kepemimpinan berbasis ketakutan jarang bertahan lama. Di kantor, bos yang toxic bikin turnover tinggi, burn-out, bahkan hilangnya inovasi karena orang cuma main aman. Tapi ini juga pelajaran buat kita: kalau menghadapi bos model begini, jangan cuma ngeluh. Strateginya: dokumentasikan semua pekerjaan biar punya bukti, jaga integritas, dan mulai bangun rencana cadangan — apakah itu mencari mentor, rotasi, atau bahkan exit strategy. Shadow adalah pengingat bahwa pemimpin buruk bisa jadi batu loncatan. Entah kita belajar apa yang nggak boleh ditiru, atau justru jadi alasan untuk akhirnya upgrade ke tempat kerja yang lebih sehat.

  • [INSIGHT 4 — Guoguo] Diremehkan? Buktiin lewat hasil, bukan debat.

    Guoguo di film awalnya dipandang kecil, remeh, bahkan diremehkan sama tim. Tapi di titik krusial, dia nunjukin kemampuan dan keberanian yang jadi penentu. Relate banget sama pengalaman kerja: pernah kan ngerasa disepelekan karena umur masih muda, jabatan rendah, atau background nggak mewah? Cara ngelawannya bukan marah atau debat panjang, tapi lewat hasil. Orang mungkin meremehkan suaramu, tapi mereka nggak bisa meremehkan data, outcome, dan kualitas. Semakin sering kamu deliver hasil nyata, semakin sulit orang nge-ignore kamu. Bahkan yang awalnya meremehkan bisa jadi orang yang paling support kamu. Jadi, kalau ngerasa kayak Guoguo — jangan down. Justru itu peluang emas buat bikin mereka kaget dengan apa yang bisa kamu lakukan.

  • [INSIGHT 5 — Teamwork] Chemistry > ego—kolaborasi lintas generasi.

    Jackie dan Tony Leung punya chemistry yang bikin film hidup. Itu contoh nyata kalau teamwork yang solid bisa bikin hasil jauh melampaui individu. Dalam dunia kerja, apalagi lintas generasi, sering ada ego: yang muda ngerasa lebih tech-savvy, yang senior ngerasa lebih berpengalaman. Kalau dua-duanya nggak nurunin ego, yang ada bentrok. Padahal kunci keberhasilan adalah saling nutupin kelemahan. Yang muda bawa energi & ide segar, yang senior bawa wisdom & strategi panjang. Chemistry > ego artinya: keberhasilan tim lahir bukan dari siapa yang paling dominan, tapi siapa yang paling bisa sinkron. Lesson: kalau mau kariermu naik, jangan cuma fokus ke skill pribadi. Belajar juga gimana jadi rekan kerja yang enak diajak kolaborasi.

  • [INSIGHT 6 — Kritik & Fokus] Evaluasi & kurangi distraksi.

    Film ini dapat kritik “bloat” di beberapa bagian — terlalu panjang, terlalu banyak subplot. Itu cerminan karier banyak orang: terlalu banyak fokus ke hal-hal kecil, sampai lupa ke big picture. Distraksi bikin energi habis, tapi dampaknya minim. Insight: lakukan evaluasi rutin. Sama kayak editor film yang memangkas scene nggak penting, kita juga harus berani cut tugas atau kebiasaan yang nggak kasih value. Misalnya meeting tanpa arah, kerjaan remeh-temeh yang bisa di-automate, atau komitmen sosial yang nggak penting. Fokus itu skill. Dan fokus hanya bisa lahir kalau kita punya keberanian bilang “tidak”. Lesson-nya jelas: jangan biarkan distraksi merusak naskah besar hidupmu.

  • [INSIGHT 7 — Branding] Konsistensi bikin kamu tak lekang.

    Jackie tetap relevan puluhan tahun karena dia konsisten. Meskipun tren film berubah, penonton tahu apa yang bakal mereka dapatkan: action seru, humor khas, pesan moral. Di karier juga sama: konsistensi bikin kamu memorable. Orang akan lebih percaya ke orang yang track record-nya stabil daripada yang jago tapi plin-plan. Branding bukan sekadar logo atau tagline di LinkedIn, tapi apa yang orang rasakan tiap kali kerja bareng kamu. Konsistensi kecil — kayak selalu tepat waktu, follow-up cepat, atau menjaga etika profesional — lama-lama jadi karakter yang melekat. Itu bikin kamu tetap dicari, bahkan saat tren berubah. Lesson: branding terbaik adalah integritas yang konsisten.

  • [INSIGHT 8 — Challenge] Tantangan: 1 micro habit minggu ini — share hasilnya!

    Nah, setelah semua insight tadi, saatnya challenge! Karena teori tanpa aksi cuma jadi wacana. Pilih 1 micro habit kerja yang bisa kamu lakukan minggu ini: bisa sesimpel 10 menit belajar skill baru tiap hari, atau bikin daily summary singkat biar komunikasi makin jelas. Lakuin 7 hari tanpa putus. Kenapa micro habit? Karena perubahan besar lahir dari langkah kecil tapi konsisten. Bayangin kalau tiap minggu kamu tambahin 1 micro habit, setahun bisa ada 52 kebiasaan baru yang bikin kamu naik level. Tantangan ini juga ajakan buat accountable bareng komunitas. Share progress-mu di komentar atau medsos biar dapet support & feedback. Jadi, jangan cuma jadi penonton hidup orang lain — mulai script kisah suksesmu sendiri.

Kesimpulan: Dari Layar Lebar ke Dunia Kerja

The Shadow’s Edge lebih dari sekadar tontonan: ia adalah cermin soal kerja keras, kepemimpinan, dan bagaimana kita sebagai profesional bisa mengambil pelajaran dari budaya populer. Nonton film bukan sekadar hiburan — kalau diamati, ia juga sumber insight karier yang tak terduga.

Challenge untuk kamu: Pilih 1 kebiasaan kerja yang mau kamu jaga minggu ini (mis. short QA check, one-line daily update, atau 10-menit learning). Lakuin selama 7 hari—laporin hasilnya di kolom komentar. Let's level up together.
Ditulis oleh Arumiwi · wijayapenyet.blogspot.com
Keywords: The Shadow’s Edge, Jackie Chan, Pelajaran Karier, Teamwork, Personal Branding

6 April 2025

Review of Korean Drama The Queen Who Crowns




The Queen Who Crowns" takes viewers back to the dynamic and tumultuous era of the Goryeo and early Joseon dynasties. The story revolves around Ratu Won Gyeong (Cha Joo Young), a woman of sharp intellect and unyielding determination, who is married to Yi Bang Won (Lee Hyun Wook), the ambitious and strategic son of Raja Tae Jo, the founder of the Joseon dynasty.


Synopsis

Title: The Queen Who Crowns  

Genre: Historical, Drama, Romance  

Episodes: 16  

Network: tvN  

Release Date: January 2025  

Main Cast:

Cha Joo Young as Ratu Won Gyeong

Lee Hyun Wook as Raja Tae Jong

Lee Sung Min as Raja Lee Seong Gye

Kim Hye Yoon as Putri Yi Bang Gwa


As political unrest brews and rival factions vie for power, Ratu Won Gyeong must navigate the treacherous waters of court politics to protect her family and secure her husband's ascent to the throne. The drama unfolds with intense palace intrigues, romantic entanglements, and heart-wrenching betrayals, showcasing the sacrifices and resilience required to wield power in a male-dominated society.

Plot Overview

The drama begins with the political tension between Yi Bang Won and his brothers over the succession to the throne. Despite being a brilliant strategist and a capable leader, Yi Bang Won faces resistance from his father, Raja Tae Jo, who initially favors his second son, Yi Bang Gwa, as the heir. Determined to secure her husband's rightful place, Ratu Won Gyeong devises intricate schemes to support Yi Bang Won's claim.

As Yi Bang Won eventually ascends the throne as Raja Tae Jong, the couple must confront new challenges, including internal court conflicts and external threats from rival clans. Throughout the series, Ratu Won Gyeong's character evolves from a supportive wife to a formidable political figure in her own right, earning the respect and fear of those around her.

Character Analysis

Ratu Won Gyeong (Cha Joo Young): Ratu Won Gyeong is a standout character, brilliantly portrayed by Cha Joo Young. Her evolution from a dutiful wife to a powerful queen is both compelling and inspiring. Her intelligence, courage, and unwavering loyalty to her husband are the driving forces behind many of the drama's pivotal moments.

Raja Tae Jong (Lee Hyun Wook): Lee Hyun Wook delivers a masterful performance as Raja Tae Jong. His character is complex, marked by ambition, ruthlessness, and a deep-seated sense of duty. The chemistry between Tae Jong and Won Gyeong is palpable, adding depth to their relationship.

Raja Lee Seong Gye (Lee Sung Min): As the aging founder of the Joseon dynasty, Raja Lee Seong Gye struggles with the conflicting loyalties of his sons. Lee Sung Min's portrayal captures the weight of leadership and the emotional turmoil of a father caught in the crossfire of political ambition.

Putri Yi Bang Gwa (Kim Hye Yoon): Kim Hye Yoon brings a nuanced performance as Putri Yi Bang Gwa, who finds herself entangled in the power struggles of the royal court. Her character adds a layer of complexity to the narrative, highlighting the personal costs of political ambition.

Themes and Highlights

Political Intrigue: The Queen Who Crowns is rife with political machinations, backstabbing, and power plays. The drama excels in portraying the high-stakes world of court politics, where alliances are fragile, and trust is a rare commodity.

Romantic Drama: The relationship between Ratu Won Gyeong and Raja Tae Jong is at the heart of the series. Their partnership, built on mutual respect and shared ambition, adds emotional depth and resonance to the story.

Strong Female Protagonist: Ratu Won Gyeong's character is a refreshing departure from traditional portrayals of women in historical dramas. Her strength, intelligence, and resilience make her a formidable force in a male-dominated world.

Visuals and Production Design: The drama boasts stunning visuals, from the opulent palace interiors to the breathtaking landscapes of ancient Korea. The attention to detail in the costumes and sets enhances the authenticity of the historical setting.

Conclusion

The Queen Who Crowns is a must-watch for fans of historical dramas. Its compelling storyline, complex characters, and rich historical backdrop make it a standout series in the genre. The drama offers a captivating blend of political intrigue, romance, and personal triumphs, all brought to life by a talented cast and meticulous production.

Whether you're a seasoned sageuk (historical drama) enthusiast or a newcomer to the genre, "The Queen Who Crowns" promises an engaging and unforgettable viewing experience. Prepare to be enthralled by the tale of a queen who defies the odds to crown her destiny.

Have you watched "The Queen Who Crowns"? Share your thoughts and favorite moments in the comments below!

15 Februari 2025

Kill My Sins: A Riveting Tale of Revenge and Mystery


Kill My Sins, also known as The Palm, is a 2025 Chinese drama that has captivated audiences with its dark, thrilling storyline and intricate character dynamics. Directed by Shawn Dou, this period noir mystery takes viewers back to 17th century China, where power, betrayal, and revenge reign supreme.

Plot and Storyline


The drama follows Ye Ping'an (played by Liu Shishi), a wandering physician and hypnotist who arrives in Chang'an to investigate an old, secretive case chinese drama. Rumors spread that she practices sorcery and manipulates hearts and minds, leading to her being accused of murder. To clear her name and avoid execution, Ye Ping'an must solve the mystery behind the murder and uncover the truth.




Enter Yuan Shaocheng (played by Shawn Dou), an ambitious investigator with aspirations of becoming chancellor. He sees Ye Ping'an as a threat and is determined to have her executed. However, as the story unfolds, it becomes clear that both characters have their own secrets and motives, setting the stage for a gripping anti-buddy murder mystery.

Characters and Performances

The performances in Kill My Sins are exceptional, with Liu Shishi delivering a powerful portrayal of Ye Ping'an. Her character is complex, driven by a desire for revenge and justice. Shawn Dou's portrayal of Yuan Shaocheng is equally compelling, capturing the character's ambition and ruthlessness.


The supporting cast also shines, with each character adding depth and intrigue to the story. The interactions between the characters are intense and filled with tension, keeping viewers on the edge of their seats.

Highlights and Criticisms

One of the highlights of the drama is its unique blend of historical setting and noir elements. The cinematography is stunning, with sweeping widescreen shots and quick edits that keep the pace fast and engaging. The plot twists and turns are well-executed, making it difficult to predict what will happen next.


However, some viewers have criticized the drama for its dark tone and complex storyline, which can be challenging to follow at times. The portrayal of male characters has also been a point of contention, with some finding them too harsh and unlikable.

Final Thoughts


Overall, Kill My Sins is a must-watch for fans of mystery and historical dramas. Its intricate plot, strong performances, and unique setting make it a standout in the world of Chinese television. While it may not be for everyone, it's a drama that leaves a lasting impression and sparks conversations.


14 Januari 2025

Unveiling the Enchantment of "Moonlight Mystique, a Chinese Drama Review


Introduction:

If you're a fan of wuxia romance and fantasy, Moonlight Mystique is a series you can't afford to miss. Premiering on January 7, 2025, this 40-episode drama has been captivating audiences worldwide with its enchanting storyline, mesmerizing visuals, and intricate costumes. Let's take a deeper look into what makes this drama stand out.

Plot and Characters:

At the heart of "Moonlight Mystique" is the compelling story of Bai Shuo (portrayed by the talented Bai Lu), the youngest daughter of the General's Mansion, who embarks on a quest for immortality. Her journey is filled with peril, adventure, and unexpected love when she meets Fan Yue (played by Ao Rui Peng), the great god of the demon clan. Initially, their relationship is one of mutual benefit and animosity, but as they face challenges together, their bond deepens into an unshakeable love story.

Bai Shuo's character evolution is a central theme of the drama. She transforms from a naive and sheltered girl into a strong, independent woman who is willing to risk everything for love. Fan Yue's character arc is equally captivating, as he transitions from an aloof and formidable demon god to a vulnerable and loving partner. The chemistry between Bai Lu and Ao Rui Peng is palpable, making their love story both heartwarming and thrilling.

Visual Effects and Cinematography:

"Moonlight Mystique" is a visual masterpiece that sets itself apart with its stunning cinematography and special effects. Unlike many xianxia dramas that favor dark, muted tones, this series embraces a vibrant and colorful palette. The use of bright hues and intricate lighting adds a magical quality to the scenes, immersing viewers in a fantastical world.

The special effects are top-notch, with seamless integration of CGI to bring the mythical elements to life. From breathtaking fight scenes to awe-inspiring displays of magical powers, the visual effects enhance the overall viewing experience, making each episode a visual treat.

Costumes and Set Design:

The costumes in "Moonlight Mystique" are nothing short of spectacular. The production team has paid meticulous attention to detail, creating outfits that are both historically accurate and visually stunning. The characters' attire reflects their status, personality, and evolution throughout the series.


Bai Shuo's Wardrobe: Bai Shuo's costumes are a reflection of her journey. Her early outfits are simple and modest, highlighting her humble beginnings. As she grows stronger and more confident, her attire becomes more elaborate, featuring intricate embroidery and vibrant colors that signify her transformation.

Fan Yue's Attire: Fan Yue's costumes are regal and imposing, befitting his status as a demon god. His outfits are adorned with dark, rich fabrics and detailed embellishments, creating a powerful and commanding presence.

The set design is equally impressive, with beautifully crafted landscapes and interiors that transport viewers to a world of magic and mystique. The attention to detail in the set pieces, from majestic palaces to serene forests, adds depth and authenticity to the story.

Themes and Messages:

"Moonlight Mystique" explores timeless themes of true love, redemption, and the pursuit of immortality. The drama emphasizes the idea that love can conquer even the greatest obstacles and that true strength comes from within. It’s a story that resonates with viewers on many levels, reminding us of the transformative power of sincere feelings and unwavering loyalty.


Audience Reception:

Since its premiere, "Moonlight Mystique" has received widespread acclaim from both audiences and critics. The drama has topped trending charts on iQiyi in multiple countries and garnered millions of views before its premiere. Viewers have praised the strong performances, compelling storyline, high production values, and, of course, the stunning visual effects and costumes.

OST (Original Soundtrack):

The OST of "Moonlight Mystique" has also been a hit among fans, adding an extra layer of emotion to the drama. The theme song "Hugging Each Other and Not Letting Go" by Zhou Shen captures the essence of the love story with its beautiful melody and emotional depth. Other tracks, such as "Flowers Fall Without Trace" by Sa Ding Ding and character songs by Huang Xiao Yun and Jing Long, have been well-received, enhancing the overall viewing experience.


Final Thoughts:

"Moonlight Mystique" is more than just a drama; it’s an enchanting journey filled with love, magic, and unforgettable characters. Whether you're a fan of wuxia romance or simply looking for a new series to get lost in, this drama promises to deliver an unforgettable experience. So, grab some popcorn, settle in, and let "Moonlight Mystique" whisk you away to a world of wonder and romance.

Enjoy watching "Moonlight Mystique"! Feel free to share your thoughts after diving into its magical world on the comment section. 

9 Januari 2024

Review Sleeping Mask Beauty White Viva

Sleeping mask adalah produk perawatan kulit yang digunakan pada malam hari untuk membantu melembapkan, mencerahkan, dan memperbaiki kulit. Sleeping mask Beauty White Viva adalah salah satu produk sleeping mask yang cukup populer di Indonesia.

Kelebihan

  • Harga terjangkau
  • Tekstur gel yang ringan dan mudah menyerap
  • Mengandung ekstrak buah-buahan dan vitamin yang bermanfaat untuk kulit
  • Harga terjangkau
  • Tekstur gel yang ringan dan mudah menyerap
  • Aroma yang lembut
  • Tidak lengket
  • Tidak membuat kulit berminyak

Kekurangan

  • Aromanya cukup wangi menyengat
  • Tidak terlalu melembapkan untuk kulit kering

Review

Sleeping mask Beauty White Viva memiliki tekstur gel yang ringan dan mudah menyerap. Sleeping mask ini mengandung ekstrak buah-buahan dan vitamin yang bermanfaat untuk kulit, seperti ekstrak lemon, ekstrak stroberi, ekstrak anggur, dan vitamin C.

Sleeping mask ini diklaim dapat membantu melembapkan, mencerahkan, dan memperbaiki kulit. Setelah menggunakan sleeping mask ini, kulit terasa lebih lembap dan cerah. Namun, sleeping mask ini tidak terlalu melembapkan untuk kulit kering. 

Saya menggunakan Viva Beauty White Sleeping Mask selama dua minggu. Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan produk ini. Tekstur gelnya yang ringan dan mudah menyerap membuat kulit terasa lembap dan segar saat bangun tidur. Aromanya juga lembut dan tidak mengganggu.

Saya tidak merasakan efek mencerahkan yang signifikan setelah menggunakan produk ini. Namun, kulit saya terasa lebih halus dan lembut.

Secara keseluruhan, Viva Beauty White Sleeping Mask adalah produk sleeping mask yang cukup bagus untuk harga yang terjangkau. Produk ini cocok untuk Anda yang memiliki kulit berminyak atau kombinasi.

Kesimpulan

Sleeping mask Beauty White Viva adalah produk sleeping mask yang cukup terjangkau dan memiliki tekstur yang ringan. Sleeping mask ini cocok untuk kulit normal, berminyak, dan kombinasi. Namun, sleeping mask ini tidak terlalu melembapkan untuk kulit kering.

Tips penggunaan

Berikut adalah tips penggunaan Viva Beauty White Sleeping Mask:

  • Bersihkan wajah terlebih dahulu sebelum menggunakan sleeping mask.
  • Aplikasikan sleeping mask secara merata ke seluruh wajah.
  • Diamkan selama 15-20 menit, lalu tidurlah.
  • Bilas wajah di pagi hari dengan air hangat.

Harga

Viva Beauty White Sleeping Mask dibanderol dengan harga sekitar Rp15.000 untuk kemasan 60 gram.


11 Mei 2018

Artikel Rambut Ketiak Mengenalkanku Pada Popbela.com


Aku pertama kali tahu tentang POPBELA.com gara-gara sedang mencari bahan pembenaran dari sesuatu yang dianggap aib oleh sebagian wanita hingga harus disembunyikan atau bahkan dihilangkan keberadaannya.

Kedengarannya serem kan? Iya memang serem, untuk sebagian wanita, tentang apa sih memangnya? Rambut ketiak. Iyaaa, rambut ketiak. Hehehe...ups, nggak boleh ketawa. Ini topik yang serius saudara-saudara. #pasangtampangserius

Yakin deh, kamu pasti bakal bilang, "Yaelaaah, buuu...rambut ketiak kok serem. Biasa aja keleeuss."

No, i am not kidding, lah iya bagaimana nggak serem kalau gara-gara rambut ketiak seorang selebritis wanita tanah air mengalami perundungan, menuai hujatan dan celaan? Seolah adalah hal yang sangat tabu untuk seorang wanita memiliki  rambut di ketiaknya. Padahal ketika melihat ke ketiak sendiri, ketiak ada rambutnya kok.

Dan selain itu topik ini mengusikku karena aku termasuk wanita yang berambut ketiak lumayan lebat, duhhh, buka aib sendiri kan jadinya ...hahaha…

Saat menjelajah itulah aku menemukan artikel tentang selebritis yang tak malu memamerkan rambut ketiaknya di sini.



Dari artikel itu aku tahu kalau selebritis sekelas Madonna dan Miley Cyrus aja cuek memamerkan ketiak berambutnya. Jadi kenapa aku dan kamu harus malu? Bangga juga dong harusnya ketiaknya berambut lebat. iyaa kaan? #eluselusrambut hahaha...

Selesai membaca artikel soal ketiak, tak terasa dari satu artikel akhirnya aku justru membuka artikel-artikel yang lainnya. Judul-judul artikelnya membuatku penasaran. Dan ketika mengklik judulnya, tulisannya juga bagus, gaya penuturannya simpel tidak berbelit sehingga mudah dimengerti.


Wah, semakin menjelajah dan membaca artikel lainnya, semakin suka, website POPBELA.com ini bagus menurutku. Karena membuat pembacanya "terikat" dan merasa sayang melewatkan tautan link yang ada di dalam artikel, hingga jadi khilaf dan lupa waktu membaca semua artikel di website ini. Serius.


Oh iya, interface antar mukanya juga cantik, rapi, dan mudah diakses baik dari gawai atau dari komputer loh. Nggak ada Lola alias nggak ada loading lama ketika kamu buka POPBELA.com karena ringan dan tak ada pop up yang mengganggu. Suka kesel kan kalau hanya untuk membaca satu artikel saja harus menunggu lama? Di POPBELA.com nggak bikin kesel, karena smooth banget perpindahan gulirnya.


Tampilan Website POPBELA.com versi selular



Desain website POPBELA.com dengan enam menu bar di dalamnya membuatnya terlihat clean, enak dilihat, dengan dominasi tema utama warna putih dan pink yang menurutku merupakan representasi dari wanita sehingga sesuai dengan target audiens POPBELA.com


Proporsi sub page nya juga pas dengan desain yang nggak bikin sakit mata saat berselancar di website ini. Asli adem di mata.

Yang juga aku suka dari POPBELA.com itu adalah konten-kontennya yang ngepop, dari inspirasi gaya make up, trik pemilihan baju supaya tetap tampil fashionable, gosip selebritis dalam maupun mancanegara terkini, segmen relationship, kehidupan sebagai single hingga ketika kamu pengen memakai produk kecantikan merk tertentu dan membutuhkan review, semua ada dan dikemas secara menarik dengan tampilan gambar yang bagus di setiap artikelnya.

Tidak ada kesan menggurui di setiap artikelnya, yang terbaca adalah kesan friendly yang membuat aku nyaman sebagai pembaca. Layaknya sedang ngobrol bareng teman.

Lantas jika kamu bertanya padaku, apa kesanku tentang POPBELA.com secara keseluruhan? Maka aku jawab website ini sesuai judul webnya yang memakai kata Pop dan juga bela SUKSES menampilkan "jati dirinya" sebagai sahabat wanita aktif masa kini yang selalu haus informasi untuk mengupgrade pengetahuannya, ngepop abiiisslah.

Nah, dari hasil kesasar mencari soal rambut ketiak, aku juga akhirnya kesasar di bagian pengumuman lomba blog competition ini, padahal jujur deh tadinya buka tab career itu karena cari lowongan buat jadi penulis lepas, siapa tahu jodoh, eh malah ketemu postingan ini


Dan booommm! Mmm, no, ralat, tik tik tik tik tik tik tik...terciptalah tulisan review website POPBELA.com ini yang kutulis jujur apa adanya sebagai seorang pembaca yang "kesasar", ngerti kan maksudku? Bukan baca info lomba dulu baru baca websitenya, tetapi kesasar buka website dulu baru nemu info lomba dan ikutan. Jadi, objektivitasnya semoga bisa lebih sampai feel-nya ke kamu yang baca postinganku ini yaaa, bukan sekedar biar menang terus dibagus-bagusin review-nya. Nope.

Okeeyy, sukses buat POPBELA.com semoga ke depan semakin kokoh positioningnya di hati wanita Indonesia.

Salam
Arumi Wijaya