Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

11 April 2019

Paslon Pilihan Ibuku


Aku tidak mengerti kenapa ayah ibuku bertengkar ketika kami menonton televisi bersama. Aku bingung kenapa setiap kali ada tayangan tentang bakal peserta pemilu mereka selalu berdebat tak henti-henti. Bahkan hingga saling mendiamkan satu sama lain.
Ayahku memilih pasangan A sementara ibuku memilih si B. Menurut ayah si A itu hebat karena mantan jenderal pasukan khusus, sedangkan menurut ibuku si B hebat karena pekerja keras dan pengusaha. Kata ayahku, Indonesia perlu dipimpin dari kalangan aparat supaya Indonesia tetap terjaga persatuan dan kesatuannya serta disegani oleh negara lain.
Bagaimana dengan kata ibuku? Kalau menurut ibuku, presiden itu harus dari kalangan pengusaha supaya indonesia menjadi negara yang ekonominya maju.
Dan kemudian berdebat panjanglah mereka berdua tentang bakal calon presidennya masing-masing. Yang tak jarang berakhir dengan ibuku pergi ke dapur dan mulai terdengar suara brak bruk dari sana, kemudian disusul suara ayah membanting pintu kamar. BRAAAAKKK!!! Kencang sekali. Serasa ribuan jarum menusuk dada dan gendang telinga kami.
Aku dan kakakku hanya bisa saling pandang menjadi penonton. Ya karena kami tidak paham soal politik dan pemerintahan. Buat kami semua presiden ya baik, bagus. Kami sedih ayah dan ibu bertengkar karena pilihan calon yang berbeda. Padahal ketika aku dan kakakku berbeda pilihan mainan atau makanan kami disuruh untuk saling mengalah. Tetapi mereka? Hhhhhhh…
Yang lebih membuat kami bingung adalah ketika salah satu dari mereka meminta pendapat kami soal siapa yang lebih bagus di antara pilihan mereka berdua. Bagaimana kami bisa memberikan pendapat, orang kami mengerti saja juga tidak.
Percaya tidak kalau kadang kami dipaksa untuk memilih seperti ini, “sudah pilih saja salah satu yang mana. Si A atau si B, Dek yang lebih bagus jadi presiden?”
Ketika aku memilih si A, Ayah buru-buru bilang ke ibu, “tuh kan anak kecil saja tahu mana yang bagus, kamu kok malah tidak tahu tho Buuuu Buuuu.”
Dan bermuka kecutlah ibu sambil melengos kesal ke arahku yang memandangnya dengan takut-takut kalau-kalau besok tak ada jatah masakannya untukku. Duh, padahal aku juga cuma asal sebut saja.
Atau ketika ibu membalas dengan berusaha mencari kawan sekubu melalui pilihan kakak, ibu pun akan bertanya hal yang sama, “Kak, menurut kakak, bagus mana presiden dari kalangan militer atau dari pengusaha?”
Kakakku yang sedang asyik bermain pun acuh menjawab, “pengusahalah, Bu.” Dan ibu pun sudut bibirnya terangkat satu alias menjep alias mencibir ke ayah.
“Tuh, kakak saja milih pengusaha, Yah.” Cibir ibu bangga. Ayah yang lebih kalem tak lantas melotot ke arah kakakku, melainkan mengejarnya dengan pertanyaan selanjutnya, “kenapa kakak milih pengusaha?”
Masih dengan acuh kakakku menjawab, “ya pokoknya pengusaha, Yah.”
Tak menunggu lama wajah ayahku pun langsung semuram kaca mobil berdebu yang kena air hujan, bluwek. Padahal bayangkan seorang anak SD kelas 6 dengan gawai di tangannya menjawab soal pilihan presiden? Bisakah dipercaya kevalidan pilihannya? Aku yang anak kecil saja lantang menjawab, tidak!
Hei, aku anak kecil, jadi aku paham benar apa yang ada di pikiran bocah macam kami ketika berhadapan dengan permainan. Jelaslah fokus kami cuma ada di layar gawai. Dengan kata lain, aku yakin seribu persen kalau kakakku sama saja sepertiku yang asal memilih, asal menjawab sekenanya dengan resiko salah satu pihak merasa senang sementara yang lainnya bermuka masam hingga membanting pintu.
Melihat sikap ayah ibuku jelang pesta demokrasi di negaraku ini bikin kesal sekaligus geli dan kuatir. Kesal karena sungguh sikap ayah dan ibu tidak ada bedanya seperti kami anak-anak ketika berebutan mainan. Geli karena sikap ayah dan ibu yang tak logis dengan memaksa kami menjadi bagian dari salah satu kubu mereka, padahal sudah jelas kami tak paham benar dengan paslonnya, nyata terpampang usia kami bukan usia pemilih.
Pesta demokrasi ini sekaligus juga membuatku kuatir kalau sampai justru menjadi pesta berakhirnya pernikahan ayah ibuku karena berbeda pilihan paslon. Tidak ada seorang pun anak di dunia ini yang bahagia melihat ayah ibunya bercerai. Apalagi karena perbedaan pilihan bakal calon. Kalau ini sampai terjadi mungkin aku dan juga kakakku akan menjadi golongan putih selamanya karena rekam jejak yang buruk tentang pemilu di memori otak kami.
“Kak, bagaimana kalau nanti gara-gara pemilu orang tua kita sampai bercerai? Kamu mau ikut ayah atau ibu?” tanyaku sore itu ketika kami sedang duduk melepas lelah di pinggiran lapangan seusai bermain bola.
“Mbuhlah, Dek. Aku tak ikut simbah saja. Males ikut bapak ibu. Kamu ikut simbah sekalian sajalah.” Kata kakakku sambil mengelap keringatnya. Sore ini kami beruntung karena berhasil menang mengalahkan tim bola tetangga. Meskipun hanya pertandingan persahabatan tapi ketika berhasil menang itu bahagianya luar biasa.
Tiba-tiba terdengar teriakan Pak Kisno dari kejauhan yang memanggil nama kami berdua. Pak Kisno terlihat tergopoh-gopoh menghampiri kami dengan nafas tersengal seperti baru saja selesai lari marathon. Tepat di depan kami, Pak Kisno membungkuk memegang kedua lututnya. Tersengal mengatur nafasnya yang berlompatan satu-satu dari dalam paru-parunya.
“Pakdhe, wonten punapa?” tanya kakakku dalam Bahasa Jawa. Dia lebih jago daripada aku yang Cuma bisa bilang nggih atau mboten. Pakdhe Kisno mengernyit lalu berdiri tegak dengan satu tangan memegang dadanya yang tampak masih naik turun.
“Bapak kalian dibawa polisi.” Aku dan kakakku berpandangan bingung. Bapak dibawa polisi? Tapi kenapa? Bukannya bapak tadi pagi berpamitan berangkat ke kantor kok sekarang ditangkap polisi.
“Kenapa bapak dibawa polisi, Pakdhe?” tanyaku sambil berpegangan tangan kakakku. Takut. Tiba-tiba terlintas bayangan buruk masa depan kami karena bapak dipenjara.
“Pakdhe tidak tahu. Sudah kalian cepat pulang sana. Ibu kalian pingsan tadi.” Bagai peluru lepas dari pelatuknya kami segera melesat pulang ke rumah yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari lapangan. Pendek tapi terasa lama karena rasa penasaran kami.
000
Suara kelereng kakakku bergemerincing di dalam gelas plastik yang dia mainkan berulang kali. Dituang dimasukkan kembali, entah sudah berapa kali dia melakukannya. Seandainya kelereng itu hanya satu yang mengenai dinding gelas plastik mungkin tak akan seberisik sekarang. Tapi kelereng itu terakhir aku hitung ada sekitar tiga puluh lima butir.
Tak heran suaranya membuatku ingin menelan kelereng-kelereng itu biar suaranya lenyap tertelan dinding perutku. Tapi itu tak mungkin kulakukan, karena ibuku pasti akan lebih sedih lagi bila berpisah juga denganku yang masuk ke ruang perawatan rumah sakit untuk mengeluarkan kelereng-kelereng yang bergelindingan di lambungku. Ibu sudah bersedih karena berpisah dengan ayah, aku tak mau menambah lagi kesedihannya.
Kalau ingat keseharian ayah dan ibu beberapa hari belakangan ini yang sering bertengkar karena paslon, aku rasanya tidak percaya kalau melihat ibuku sedih berpisah dengan ayahku. Ibu bahkan sampai menangis tersedu karena merindukan ayahku. Entah merindukan sosoknya atau merindukan bertengkar dengannya, aku tak paham. Yang kupahami ibuku bersedih, aku juga. Setelah beberapa hari belakangan aku merasa lelah dengan perdebatan mereka tentang siapa calon presiden yang paling pantas memimpin negaraku, tapi hari ini aku berharap kalau akan mendengar perdebatan ayah ibuku lagi daripada mendengar isakan ibuku yang tertahan di balik dinding kamarnya. Isakan ibuku jauh lebih terasa memerihkan telingaku dan meremukkan ulu hatiku.
Mungkin benar yang orang-orang bilang, kita akan merindukan seseorang saat dia sudah tidak ada di kehidupan kita. Sama seperti sekarang kami merindukan ayah. Meski untuk kasus ayahku, kami masih akan bisa bertemu suatu saat nanti entah kapan yang kuharap tak akan memakan waktu lama.
“Kenapa Ayah ditahan polisi, Bu?” tanyaku dan kakak berbarengan saat kami tiba dari lapangan di hari pertama ayah dijemput polisi. Mendengar pertanyaanku, bukannya menjawab, tangis ibuku malah makin kencang lalu ibu bergegas lari ke kamarnya.
Budhe Susi tetanggaku memeluk kami berdua dan menggelengkan kepala saat kami akan menyusul ibu ke kamar. Sejak itu kami takut bertanya ke ibu kenapa ayah dipenjara. Takut melihatnya menangis.
Kami hanya bisa mendengar simpang siur kalau ayah dipenjara karena ibu yang berkampanye mendukung paslon tertentu. Hubungannya sama ayah apa? Di situlah kami tak mengerti. Karena kalau ibu yang berkampanye dan melakukan kesalahan ya mestinya ibu yang dipenjara kan.
Bukan berarti juga sih kalau kami akan senang melihat ibu dijemput polisi. Kami hanya ingin keluarga kami utuh berkumpul bersama seperti semula. Mau bertengkar soal pilihan presiden ya tidak apa-apa, selama masih bisa melihat mereka berdua di rumah ini buatku itu jauh lebih baik.
Kuhidupkan televisi satu-satunya di rumah ini. Daripada pusing mendengar suara kelereng kakakku, lebih baik aku menonton acara anak-anak yang aku tidak yakin ada di sore hari. Karena biasanya di jam ini diisi acara televisi yang orang-orangnya ribut mempertontonkan aib orang lain atau kalau tidak ya ribut gojekan haha hihi tanpa jelas materi yang jadi bahan tertawaan itu apa. Garing, kosong, kok ya tertawa. Kadang membuatku penasaran apa sih yang lucu sebenarnya dari obrolan mereka? Menontonnya, senyum pun tak ada di garis bibirku. Aku yang memiliki selera humor kelas receh atau justru kelas lembaran? Entahlah.
Remote kupencet berulang kali untuk menemukan acara yang sekiranya akan menarik perhatianku. Sudah dua puluh saluran televisi dan belum tertarik satu pun. Entah ini mataku yang salah atau televisinya yang memang sekarang tidak punya acara menarik untuk anak seumuranku.
“Pencet terus, Dek sampai jebol itu remotenya. Kamu itu kebiasaan kalau nyetel tivi mesti muter terus remotenya.” Gerutuan kakakku terdengar dari tempatnya bermain dengan kelereng. Sudut mataku hanya melirik sekilas menanggapi protesnya. Huh, apa haknya bicara begitu setelah dia merusak telingaku sekian menit lamanya dengan kegiatannya yang tak berfaedah.
“Ayaaahhh!!! Deeekkk, ayah deekkk ayaahhh!” teriaknya tiba-tiba mengagetkanku. Untung bola mataku yang sedang melirik tak copot karena kaget dan sigap melihat kembali ke arah televisi. Sekejap kakakku sudah duduk anteng di sampingku setelah melompat dari atas kursi di dekat jendela. Dan kami berdua menatap penuh rasa kangen ke foto ayah yang ditampilkan di televisi. Sama-sama melongo mendengar penjelasan pembaca berita tentang kasus ayahku.
“Ayah..” suaraku tercekat rindu ketika melihat video ayahku yang diwawancarai oleh wartawan. Ayah terlihat kuyu dan sedih meski berusaha tegar. Dia masih tetap ganteng meski terlihat sedikit kurus dan tak terurus. Tak lama terdengar suara berderik pintu kamar, terlihat kepala ibu menyembul keluar dari balik pintu berbarengan dengan hampir selesainya video ayah yang diwawancarai oleh wartawan di televisi.
“Iya, kami berbeda pilihan, tapi bagaimanapun istri saya ya istri saya sampai kapan pun. Dia orang yang saya cintai, ibu dari anak-anak saya, jadi wajar kalau saya melakukannya.” Tegas ayahku dengan nada meninggi. Saat itu juga ibuku menutup pintu sambil terisak lagi. Kali ini kami mengerti arti isak tangisnya.
000
“Kenapa ibu tidak minta tolong ke Pakdhe Sukiman untuk membebaskan ayah?” pertanyaan anak kecil tidak pernah lepas dari kata kenapa. Itu pula pertanyaanku ke ibu yang sore ini akhirnya mau menemani kami bermain di ruang keluarga yang merangkap ruang tamu di rumah ini, setelah seminggu lamanya kami seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Untung ada Budhe Susi yang menemani dan mengurus kami berdua. Percayalah, benar kalau ada yang bilang, tetangga adalah saudara terdekat kita. Karena buktinya ketika ibu sibuk mengurusi kasus ayah, Budhe Susi lah yang merawat kami berdua dan memastikan kami tetap aman.
Ibu tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia tampak tekun menggulung benangnya dalam diam. Setelah kupikir dia tak akan menjawab pertanyaanku, ternyata aku salah.
“Pakdhe Sukiman mau membantu asal ibu mau beralih pilihan calon presiden.” Jawabnya lirih. Meski masih kecil aku memahami kelirihan suaranya. Sama sepertiku yang ketika memilih mainan di toko tetapi ayah memaksa memilihkan yang lain dengan alasan lebih murah, aku tak akan rela mengingkari kata hatiku sendiri kalau aku lebih menyukai mainan pilihanku. Tetapi karena ayah mengeluarkan jurus andalannya yaitu, “kalau tidak mau itu ya sudah.” Sambil beranjak menuju pintu keluar toko, akhirnya dengan suara lirih aku akan bilang, “ya udah deh yang ini, Yah.” Lalu mainan pilihan ayah pun masuk ke meja kasir, dibungkus dan ku bawa pulang.
“Ibu mau?” tanya kakakku sambil menggigit roti isinya.
Menghela nafas berat, ibu memutar pola rajutannya yang sudah setengah jadi. Ditatapnya rajutan yang entah pesanan siapa di tangannya seolah sedang tenggelam dalam kaitan benang yang terjalin satu sama lain memamerkan permainan warna hasil kelincahan jemari ibuku. Indah seperti biasa tapi nyatanya keindahan itu tak mampu meringankan helaan nafas ibuku.
“Daripada ayahmu di penjara dan kalian malu karena punya ayah seorang narapidana.” Jawabnya.
“Tapi, Bu kata pak guru memilih calon presiden dengan benar dan sesuai hati nurani itu penting.” Kataku yang langsung mendapat sikutan di perutku dari kakakku yang sedang melotot ketika akan kuprotes kelakuannya yang main sikut. Dipikirnya tak sakit apa.
“Keutuhan keluarga lebih penting dari pilihan calon presiden.” Jawab ibuku diplomatis dan menutup mulut kami berdua yang hendak berbicara lagi.
“Lagipula secara tidak langsung ada andil ibu sehingga ayahmu dipenjara. Jadi ibu harus bertanggung jawab.” Tambahnya lagi.
“Tapi kan ibu tidak melakukan apa-apa, ayah dipenjara kan karena laporan Pakdhe Sukiman yang dipukul ayah. Lalu salah ibu di mana?” tanya kakakku merepet seperti suara petasan dan aku manggut-manggut mengiyakan pernyataannya. Karena biang kerok ayah dipenjara ya Pakdhe Sukiman yang membuat laporan ke polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan lalu kenapa ibu yang harus bertanggung jawab.
“Salah ibu adalah menjadi wanita yang kekeuh mendukung calon presiden dan tak bisa mengontrol diri sehingga di setiap kesempatan selalu berkampanye dan menjadi bahan olokan orang. Padahal wanita yang kekeuh ini dicintai ayahmu. Sementara tidak ada lelaki yang tahan, Kak ketika wanita yang dia cintai diolok-olok orang lain, meski yang mengolok memiliki pilihan calon presiden yang sama dengannya. Ayahmu menganggap ibu lebih penting dari kesamaan pilihan calon presidennya dengan Pakdhe Sukiman, karena itu ibu juga harus melakukan hal yang sama untuk ayahmu. Ayahmu lebih penting dari calon presiden pilihan ibu. Entah bagaimana ibu menjelaskan dengan Bahasa yang kamu bisa mengerti, tapi kalau suatu saat nanti menemukan wanita yang kamu cintai pasti akan paham rasanya jadi ayahmu. Lagipula pemilu di negara kita ini LUBER alias langsung umum bebas rahasia, ibu masih bisa memilih calon presiden tanpa bisa diketahui oleh orang lain, termasuk Pakdhe Sukiman. Ibu hanya harus bermain lebih cantik saja dengan tak kampanye. Berat mengerem mulut ibu untuk tidak membantah pendapat orang,  tapi lebih berat kehilangan ayah kalian.” Jelas ibu lalu diletakkannya hasil rajutannya di keranjang tempat biasa tergeletak aneka benang dan rajutan yang belum selesai di sisi kursi malasnya.
Ku tatap kagum ibuku yang tegar dan sangat cerdas di mataku. Aku ingin kelak mendapatkan istri seperti ibuku. Dan ibu benar, bahasanya tak semua mudah untuk kami pahami, tapi setidaknya kami mengerti kalau ayah akan segera bebas dari penjara. Kompak kami peluk ibu dan tenggelam dalam hangat pelukannya. 

Note : cerpen ini kubuat dari awal memanasnya pilpres 2019, sebuah "teriakan" keprihatinan melihat tensi politik yang bahkan membuat suami istri dan keluarga berantakan hanya karena berbeda pilihan paslon... foto google.


11 Mei 2018

Artikel Rambut Ketiak Mengenalkanku Pada Popbela.com


Aku pertama kali tahu tentang POPBELA.com gara-gara sedang mencari bahan pembenaran dari sesuatu yang dianggap aib oleh sebagian wanita hingga harus disembunyikan atau bahkan dihilangkan keberadaannya.

Kedengarannya serem kan? Iya memang serem, untuk sebagian wanita, tentang apa sih memangnya? Rambut ketiak. Iyaaa, rambut ketiak. Hehehe...ups, nggak boleh ketawa. Ini topik yang serius saudara-saudara. #pasangtampangserius

Yakin deh, kamu pasti bakal bilang, "Yaelaaah, buuu...rambut ketiak kok serem. Biasa aja keleeuss."

No, i am not kidding, lah iya bagaimana nggak serem kalau gara-gara rambut ketiak seorang selebritis wanita tanah air mengalami perundungan, menuai hujatan dan celaan? Seolah adalah hal yang sangat tabu untuk seorang wanita memiliki  rambut di ketiaknya. Padahal ketika melihat ke ketiak sendiri, ketiak ada rambutnya kok.

Dan selain itu topik ini mengusikku karena aku termasuk wanita yang berambut ketiak lumayan lebat, duhhh, buka aib sendiri kan jadinya ...hahaha…

Saat menjelajah itulah aku menemukan artikel tentang selebritis yang tak malu memamerkan rambut ketiaknya di sini.



Dari artikel itu aku tahu kalau selebritis sekelas Madonna dan Miley Cyrus aja cuek memamerkan ketiak berambutnya. Jadi kenapa aku dan kamu harus malu? Bangga juga dong harusnya ketiaknya berambut lebat. iyaa kaan? #eluselusrambut hahaha...

Selesai membaca artikel soal ketiak, tak terasa dari satu artikel akhirnya aku justru membuka artikel-artikel yang lainnya. Judul-judul artikelnya membuatku penasaran. Dan ketika mengklik judulnya, tulisannya juga bagus, gaya penuturannya simpel tidak berbelit sehingga mudah dimengerti.


Wah, semakin menjelajah dan membaca artikel lainnya, semakin suka, website POPBELA.com ini bagus menurutku. Karena membuat pembacanya "terikat" dan merasa sayang melewatkan tautan link yang ada di dalam artikel, hingga jadi khilaf dan lupa waktu membaca semua artikel di website ini. Serius.


Oh iya, interface antar mukanya juga cantik, rapi, dan mudah diakses baik dari gawai atau dari komputer loh. Nggak ada Lola alias nggak ada loading lama ketika kamu buka POPBELA.com karena ringan dan tak ada pop up yang mengganggu. Suka kesel kan kalau hanya untuk membaca satu artikel saja harus menunggu lama? Di POPBELA.com nggak bikin kesel, karena smooth banget perpindahan gulirnya.


Tampilan Website POPBELA.com versi selular



Desain website POPBELA.com dengan enam menu bar di dalamnya membuatnya terlihat clean, enak dilihat, dengan dominasi tema utama warna putih dan pink yang menurutku merupakan representasi dari wanita sehingga sesuai dengan target audiens POPBELA.com


Proporsi sub page nya juga pas dengan desain yang nggak bikin sakit mata saat berselancar di website ini. Asli adem di mata.

Yang juga aku suka dari POPBELA.com itu adalah konten-kontennya yang ngepop, dari inspirasi gaya make up, trik pemilihan baju supaya tetap tampil fashionable, gosip selebritis dalam maupun mancanegara terkini, segmen relationship, kehidupan sebagai single hingga ketika kamu pengen memakai produk kecantikan merk tertentu dan membutuhkan review, semua ada dan dikemas secara menarik dengan tampilan gambar yang bagus di setiap artikelnya.

Tidak ada kesan menggurui di setiap artikelnya, yang terbaca adalah kesan friendly yang membuat aku nyaman sebagai pembaca. Layaknya sedang ngobrol bareng teman.

Lantas jika kamu bertanya padaku, apa kesanku tentang POPBELA.com secara keseluruhan? Maka aku jawab website ini sesuai judul webnya yang memakai kata Pop dan juga bela SUKSES menampilkan "jati dirinya" sebagai sahabat wanita aktif masa kini yang selalu haus informasi untuk mengupgrade pengetahuannya, ngepop abiiisslah.

Nah, dari hasil kesasar mencari soal rambut ketiak, aku juga akhirnya kesasar di bagian pengumuman lomba blog competition ini, padahal jujur deh tadinya buka tab career itu karena cari lowongan buat jadi penulis lepas, siapa tahu jodoh, eh malah ketemu postingan ini


Dan booommm! Mmm, no, ralat, tik tik tik tik tik tik tik...terciptalah tulisan review website POPBELA.com ini yang kutulis jujur apa adanya sebagai seorang pembaca yang "kesasar", ngerti kan maksudku? Bukan baca info lomba dulu baru baca websitenya, tetapi kesasar buka website dulu baru nemu info lomba dan ikutan. Jadi, objektivitasnya semoga bisa lebih sampai feel-nya ke kamu yang baca postinganku ini yaaa, bukan sekedar biar menang terus dibagus-bagusin review-nya. Nope.

Okeeyy, sukses buat POPBELA.com semoga ke depan semakin kokoh positioningnya di hati wanita Indonesia.

Salam
Arumi Wijaya

26 Februari 2018

Review Pengalaman Pakai Rangkaian Pond's Age Miracle Wrinkle Corrector

penampakan serum intensive cell regen
Pond's Age Miracle  
Bukannya takut menjadi tua berkeriput kalau aku mutusin buat beli rangkaian Pond's Age Miracle Wrinkle Corrector. Karena proses alami menjadi tua tidak akan bisa kita hindari. Tapi apa salahnya merawat apa yang sudah Tuhan kasih supaya lebih "awet" iya kan?
Dan honestly beberapa waktu sebelumnya aku break dari semua krim perawatan. Karena sempat bruntusan parah gegara nyoba pelembab dari sebuah merk. Ceritanya nyoba berpaling gitu dari Pond's Flawless. Tapi yang terjadi justru alergi bruntusan kecil-kecil hingga jadi jerawat parah banget. Pakainya cuma tiga hari, nyembuhinnya sampai setahun. Nyesel banget udah. Nanti kuceritain di postinganku yang lain ya pengalaman bersabar nyembuhin jerawat alergi. 

Dan ini memang sengaja posting setelah hampir sebulan pakai. Karena pengen liat bikin komedo dan jerawatan nggak. Ples liat efeknya aja, bener ga seperti yang diklaim. Mengkoreksi kerut, flek hitam dan efeknya terlihat dalam 7 hari pemakaian.Ya udah deh langsung aja yaaa review-nya.
Pond's Age Miracle Day Cream 10 gram
Aku beli Pond's Age Miracle Wrinkle Corrector ini di Lazada pas promo. Dan sengaja dipasin dengan promo gratis ongkir masih ditambah diskon 10% pengguna apps juga. Jadi dapat harga super murah dengan tanggal kadaluarsa di tahun 2021. Mantep kan? Kapan-kapan kuposting juga deh tips belanja di Lazada yang agak tricky menurutku. Tahu kan yaaa, emak-emak selalu berburu diskonan. 

Dan sengaja belinya ukuran jar kecil secara belajar dari pengalaman dulu selalu beli yang besar langsung eh ternyata ga cocok. Sayang duitnya lah. back to topic ya, urutan pemakaian rangkaian Pond's Age Miracle ini simpel kok. Yaitu pakai serum Pond's Age Miracle intensive cell regen dulu baru kemudian ditimpa Pond's Age Miracle day cream atau Pond's Age Miracle night cream. Nah kalau aku urutan pakainya biasanya adalah pembersih - sabun (pakai yang dullness white) - toner - serum - day/night cream dan terakhir eye cream. iyaaa memang ribet dan biasanya banyak yang ga sabar kayak aku. hahaha...jadi kalau ada yang bilang beauty is pain, kalau aku nggak. aku bilangnya beauty is rem to the pong alias rempong shaaayy. tapi kalau ngeliat hasilnya oke berasa lunas gitu kan ya kerempongan kita? 

lalu gimana hasilnya setelah pemakaian pertama, tiga hari, seminggu dan sebulan?
Pemakaian Pertama Pond's Age Miracle

Pond's Age Miracle Night Cream 10 gram
serum terasa agak lengket saat pertama kali dioleskan ke kulit wajah. dan karena takut kalau nggak cocok, pemakaian pertama ini hanya setetes lalu ditotol rata ke seluruh muka. cukup? cukup banget shay. dan kulit terasa langsung lembut. lalu untuk krim malam atau hariannya gimana? sama, aku juga cuma pakai secukupnya. rasanya lebih ringan dibanding serum. ga lengket cuma volume pakainya agak banyakan krim daripada serum ya. kemudian untuk beda tekstur keduanya kalau serum lebih cair tapi agak lengket kalau krim lebih kental dan ga lengket, cepat sekali meresap di kulit, efeknya sama-sama terasa lembut seketika setelah dioleskan. terakhir adalah pemakaian krim mata. Jujur deh, ini pemakaian krim mata pertamaku. Karenanya bingung cara pakainya yang benar. Kalau kamu juga newbie soal krim mata, coba cek postinganku lainnya nanti yaaa. Krim mata ini sepertinya jadi bagian favoritku deh. aplikatornya aku suka karena bikin aku jadi ga repot pakai spatula buat ngolesin. dan teksturnya ga terlalu kental, cepat meresap, dan adem banget di kulit. 

Pemakaian Hari ke Tiga Pond's Age Miracle

Pond's Age Miracle
Eye Cream
hari pertama dan kedua udah yang ketar-ketir rasanya. selalu cek kalau-kalau muncul tanda bruntusan gatal atau komedonya makin nambah. ternyata, di hari ketiga, di aku nggak muncul efek itu. smooth dan aman. Untuk efek, sepertinya belum ya. masih sama aja ga terlihat efek apa pun.

Pemakaian Hari ke Tujuh Pond's Age Miracle

sampai hari ke tujuh,situasi masih aman alias tak kudapati tanda bruntusan gatal maupun komedo bertambah. Dan sudah mulai terasa perubahan yaitu kulit lebih lembab dan lembut. Untuk skin tone, nggak terlihat efeknya lah kan ini bukan untuk memutihkan. 

Pemakaian Sebulan Pond's Age Miracle.

ketika ketemu dengan sodara yang hampir sebulan nggak ketemu, aku ditanyain. "Kamu perawatan di mana, Nduk. Ayu men loh. Kok kayak ada yang beda." dikoemntarin gitu langsung ngacalah dan ngecek detail. Karena selama ini pakai ya udah pakai aja nggak dicek lagi yang penting ga muncul bruntusan udah. terus karena aku bukan orang yang sangat telaten, jadi kadang bolong nggak pakai. Entah krim hariannya atau krim malamnya. Seingatnya. Hahaha...Dan yang kutemukan ternyata yang beda itu garis di sudut kelopak mata atas bawah dan di dahi terlihat lebih samar. Kulit juga terlihat lebih kenyal lembut. Yah, meski belum sekenyal dan sehalus kulit adek siy ya secara beda generasi jauh banget shaaayy, tapi udah ga sekasar sebelum pakai. 

Kesimpulan

fotonya separuh aja ya, malu soalnya. hahaha...
dari pengalaman pakai selama sebulan sebenarnya belum bisa menyimpulkan hasilnya secara keseluruhan. Karena kalau aku yang kulitnya agak bandel ples sangat sensitif ini efek biasanya baru terlihat secara nyata di bulan ketiga. Tapi Pond's Age Miracle di kulit aku hasilnya terlihat setelah sebulan pakai. Garis kerut samar, untuk fleknya belum begitu kentara ya. Yang terpenting nggak bikin bruntusan ataupun nambah komedo. bahkan komedo di cuping hidung berkurang banyak, ini siy kayaknya karena efek sabun mukanya secara ada scrubnya. Jadi bakal beli lagi nggak nih? iyalah. Cocok kok. Dan menurutku hemat siy, soalnya jar 10 gram aja masih setelah sebulan pakai. Kalau untuk serumnya perkiraan bisa dipakai 3-4 bulan. Oh iya untuk yang nggak suka bau wangi,  Pond's Age Miracle ini wanginya agak kentara meski lembut. Jadi kalau misal punya alergi parfum mungkin bisa dites dulu pemakaian di leher. 

oke, that's it my first review. Review ini nggak dibayar yaahhh, produk juga beli sendiri. Boleh deh dicek di postingan soal belanja di Lazada, ada tuh buktinya. hahahaha....terima kasih udah baca, semoga bermanfaat kasih referensi. kalau soal kandungannya, googling aja yah. *dasar blogger pemalaaaassss! hehehehe...