Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2023

Tetap Gesit Ketika Menua

Suatu hari jam pulang sekolah.

Di atas angkotan umum jurusan Sriwijaya - Lamper - yg beken dengan nama "Daihatsu no 6", ada anak SMP kelas 1 yang menyapa simbah-simbah putri dengan keranjang belanjaan yang barusan naik di lampu bangjo Metro.

"Mak, bar seko pasar?" 

"Inggih, Nok. Kesesa kulo lha wong wau wonten ingkang kesupen, dadosipun mbalek maleh. ajeng tindak pundi, Nok? daleme pundi?" si anak bengong.
"Mak,aku ki putumu, Mak." si anak makin bengong ketika melihat simbah putri hanya nyengir bingung.
"Ndak inggih, sinten nggih?" si anak yang sudah terlanjur bengong tingkat tinggi, lalu berusaha menjelaskan, 
"Aku anake Bu Yayuk, Mak anakmu wedok mbarep."
tapi tetap saja simbah putri itu cuma menatapnya sambil nyengir bingung. Akhirnya karena ga tega dan bingung juga, si anak SMP memilih diam.
Sampai sama-sama turun dari Daihatsu no 6, menyeberang jalan, si nenek jalan cepat mendahului si anak SMP, bahkan sempat menyapa.
"Kulo tak mlampah ndisik nggih, Nok." 
si anak pun mengangguk tersenyum meski pikirannya super bingung dan sedih, sedih karena simbah putrinya melupakannya. 
Tetapi ketika menatap sosok simbahnya yang begitu gesit melangkah lebar meski berkain jarik dan kebaya sambil menggendong keranjang, seketika rasa bangga menyelimuti hatinya, bukan karena bangga dilupakan simbahnya, tapi bangga di usia yang sudah senja, bahkan pikun, simbahnya tetap tidak bisa berdiam diri saja di rumah. Tiap jam dua dini hari bangun menyisir jagung dan memotong sukun, pisang, tahu maupun tempe, setelah subuh jalan kaki menuju kiosnya di pasar untuk berjualan gorengan sampai habis dhuhur baru pulang. 
salut banget sama simbah putri, sudah sampai pikun lupa cucunya masih ga mau diam dan masih jago berhitung. 

Dan anak SMP itu aku, yang setiap kali ingat kejadian di Daihatsu no 6 itu selalu geli sekaligus ngerasa selalu diingatkan untuk terus semangat bergerak mau berapapun usiaku seperti simbah. Jujur, selalu bertanya, kalau aku menua besok pikun juga nggak ya? 

21 Juli 2018

Menjadi Orang Tua yang Cerdas Mengenali Kecerdasan Anak


Musim liburan telah berakhir dan anak-anak kembali sibuk dengan sekolahnya di kelas yang baru. Tapi masih lekat di ingatan saya ketika hari pembagian rapor di sekolah. Saat itu kebetulan saya duduk di dekat meja guru, otomatis saya mendengar semua percakapan guru dengan tiap orang tua murid yang maju ke depan.

Karena anak saya namanya berawalan huruf R maka dia berada di urutan yang lumayan jauh antriannya untuk dipanggil. Alhasil, saya mendengar hampir semua percakapan guru dengan orang tua murid. Memang sih menguping itu nggak sopan, tapi heeeii, saya nggak nguping, melainkan tak sengaja “mendengar” dengan jelas karena jaraknya lumayan dekat. *membela diri*

Nah, dari hasil  “mendengarkan”, saya bilang ke diri saya sendiri, saya nggak mau jadi orang tua yang menekan anak untuk mendapatkan nilai yang sempurna, orang saya saja nggak sempurna saat sekolah dulu. Range nilai 100 hingga 85 sering, tapi bukan berarti nilai 10, 20, 30, 40 nggak pernah dapat, saya pernah dapat nilai 10 untuk Bahasa Indonesia yang notabene adalah Bahasa sehari-hari, sampai ibu saya bilang, “Kamu itu anak bule opo piye kok Bahasa Inggris malah lebih bagus nilainya dari Bahasa Indonesia?” hehehe..


Bukan nilai yang menjadi patokan kecerdasan anak



Di saat membagikan rapor, Gurunya adek berulang kali bilang ke beberapa orang tua murid, jangan dimarahin ya, Mah anaknya. Nilai jelek bukan berarti putra atau putri panjenengan bodoh. 


Wali Kelas Favorit Ibu Suprapti



Beliau guru yang sangat bijak menurut saya, sayangnya sebagian besar di antara orang tua itu justru terkesan menyalahkan anaknya. Rata-rata bilang, “iya tuh bu guru anak saya jelek nilainya karena memang susah disuruh belajar."
"Anak saya itu mainan hape terus tiap hari, sudah kecanduan."

"Kalau menggambar dia suka, bisa seharian betah, tapi disuruh bikin PR lama sekali."


Saya jadi sedih mendengarkan mereka curhat “menyalahkan anak”. Karena buat saya anak tuh nggak salah, kita sebagai orang tua yang mestinya belajar mengarahkan dengan mengenali minat dan bakat anak. 


Adek yang hobi membaca


Kalau tahu anaknya suka menggambar ya masukkan saja ke sanggar lukis, kalau suka baca buku ya ajak ke perpustakaan atau belikan buku cerita yang banyak bermuatan pendidikan, kalau suka musik ya minta saudara atau tetangga untuk mengajari bila dirasa masuk ke sekolah musik terlalu mahal, kalau anak suka mainan ya kan bisa diarahkan untuk membeli mainan edukatif atau bahkan membuat mainan sendiri.



Adek membuat mainannya sendiri


Meski tak berhubungan langsung dengan pelajaran sekolah, tapi jangan menganggap semua kegiatan itu tak bermanfaat karena kecerdasan kognitif alias kecerdasan intelektual tak melulu menyoal nilai akademis. Ketika anak kita memiliki bakat seni musik ataupun menggambar, suka membuat mainan sendiri atau pun suka membaca, anak kita sudah termasuk anak cerdas loh karena #AnakCerdasItu kreatif.


mainan yang sudah dibuat adek berbahan kertas



Adapun anak cerdas beberapa ciri-cirinya lainnya adalah aktif, memiliki konsentrasi intens, daya ingat kuat, memiliki kosakata yang tinggi, memperhatikan detail, memiliki imajinasi yang tinggi, tertarik dengan banyak hal, membaca lebih awal dan memiliki bakat seni.

  
                                                  
Adek ketika berkreasi



Dan kita sama-sama tahu, setiap anak itu adalah unik. Seperti kedua anak saya yang memiliki minat dan bakat yang berbeda. Kakak menunjukkan minat yang besar di musik, olahraga dan akademis. Adeknya lebih ke seni kriya dan menggambar, disuruh belajar? Susah. Olahraga? Malas. 




ballpoint, kardus, sumpit, dan pensil bekas dengan kawat sebagai pengait


Apakah lantas saya menyerah? Tidak. Saya sedikit memaksa mereka untuk berkenalan dan mencicipi semua bidang. Saya selalu bilang, “coba dulu kalau memang nggak suka kita ganti lainnya.” Kenapa? Karena anak-anak biasanya suka “hidup” dengan imajinasinya. Bisa jadi imajinasi mereka tentang hal baru itu adalah “mengerikan” padahal dicoba saja belum. Karenanya buat saya #AnakCerdasItu adalah anak yang berani mencoba hal baru dan keluar dari ketakutannya.


Dulu pertama menolak ikut Taekwondo, begitu dua kali mencoba sekarang sudah sampai di sabuk merah

















Oh, iya setelah saya perkenalkan bidang baru pada mereka, saya tentu saja wajib untuk tak malas mendengarkan suara hati anak-anak, bila mereka bilang tak bahagia ya sudah berhenti kita coba lagi yang lainnya. Berulang tak bosan saya lakukan. Karena buat saya #AnakCerdasItu ya anak yang berani mengemukakan pemikirannya serta berani mengembangkan minat dan bakatnya dengan dibantu diarahkan oleh orang tua yang cerdas mengenali bakat dan minat anak-anaknya. Jadi jangan gampang melabeli anak dengan anak saya itu nggak cerdas karena nilai rapornya saja jelek. Tetapi lihat apa yang sudah kita lakukan untuk mengembangkan kecerdasan anak.

Selain itu, kita juga perlu memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang baik. Bukan karena di rumah tidak ada masakan bergizi. Tetapi kadang juga karena ada anak  yang bermasalah dengan nafsu makannya. Nah, di sini juga orang tua mesti cerdas mengenali makanan apa saja sih yang mereka sukai, kira-kira bisa nggak makanan yang mereka sukai itu disulap menjadi makanan yang bergizi? Anak nggak suka sayur bisalah kita siasati dengan misal dicampur nasi goreng, atau dimasukkan ke olahan roti. 


nasi goreng sayur

Dan tentunya bisa dilengkapi dengan suplemen multivitamin seperti Cerebrofort yang mengandung Lysin dan biotin yang berguna untuk meningkatkan nafsu makan anak dan juga meningkatkan metabolisme sehingga gizi anak tetap terjaga.

                                                       
Kandungan Cerebrofort Gold



Cerebrofort Marine Gummy


Jadi, mari kita #DukungCerdasnya anak kita yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Berhenti membandingkan anak-anak kita dengan anak orang lain, tanamkan di pikiran kita kalau anak kita itu anak cerdas dan hebat karena itu juga bisa menjadi sebuah kekuatan doa buat mereka.



16 Mei 2018

Ketika Adek Bersorak Menyambut Ramadan

"Yeaaayy, besok puasaaa!" Sorak Adek ketika tahu pengumuman tentang penetapan hari pertama ibadah puasa Ramadhan tahun ini. Kupikir dia akan bicara soal nanti puasa masuk sekolah jam berapa, teman-temannya yang nggak semuanya puasa, apa saja selain soal teror bom seperti ini,

"Adek tuh heran, Bunda orang muslim itu harusnya senang ya bersemangat gitu mau puasa mau lebaran, kan ga semua dapat kesempatan ngerasain bulan Ramadhan lagi. Tapi itu teroris-teroris kan katanya Islam kok malah bunuh diri pas mau masuk Ramadan? Aneh deh."

Dan aku terdiam mendengar kata-katanya. Kata-kata yang keluar dari mulut anak kelas empat SD. Yang pikirannya masih sangat simpel. Sederhana tapi menohok menurutku. Begitu dewasa jauh dari umurnya. 

Ya, karena sebagai umat muslim bulan Ramadan itu bulan suci yang selalu dinantikan. Kita selalu berdoanya semoga bisa merasakan kembali Ramadan tahun berikutnya lagi dan lagi. 

Bahkan kalau saya ngerasa sedih ketika bulan Ramadan sampai di penghujung. Karena kepikiran, tahun depan masih bisa ngerasain lagi nggak ya. Masih bisa menumpuk pahala sebanyak-banyaknya untuk memperberat timbangan amalan saya di akherat nggak ya secara saya ngerasa dosanya bejibun, lebih dari buih di laut.

Dan rasa penasaran Adek itu benar. Yang jadi pertanyaanku kemudian malah, apakah para teroris yang beratribut muslim itu memikirkan sama seperti Adek? Ataukah mereka juga sebenarnya pengen menikmati bulan Ramadhan tapi karena perintah "komandan" untuk ngebom ya udah dijalanin? 

Entahlah...yang jelas sayang sekali mereka melewatkan nikmatnya bulan Ramadhan dengan bom bunuh diri, bunuh diri yang merupakan perbuatan yang dibenci Allah. 

Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi di bulan Ramadan ini ya, Jeng...selamat menjalankan ibadah puasa🙏


Salam
Arumi Wijaya

5 Mei 2018

Say No to Gimmick Ngejatuhin Harga Diri Wanita

Ada beberapa yang nanya, mbak gimana soal yang lagi rame dibandingin? 

Simpel ku jawab semua di sini ya,  intinya, tetap posisi wanita yang jadi korbannya. Dan aku, penonton film, ga akan pernah sudi nonton film yang promonya alay, lepas dari siapapun yg main. 

Apalagi dibumbui gimmick, menginjak harga diri wanita, duh, nggak banget. Langsung coret. Orang ada skandal pelecehan seksual pemain wanita oleh produsernya aja aku ogah nonton, kecuali taunya baru belakangan.

Buat apa memperkaya produser yang nggak beritikad baik mengangkat harkat derajat martabat wanita? Setidaknya dengan harga tiket yang kubayar meski hanya 35-80rb aku pengennya ikut ambil bagian dari empowering woman, bukan malah ngejatuhin harga diri wanita. 

Dan habit penikmat film itu beda dengan tivi, mereka memutuskan nonton sebuah film bukan dari gimmicknya, melainkan dari bagus tidaknya karya film itu sendiri. Kebanyakan justru malah ga minat nonton manakala film itu punya skandal. Makanya skandal di dunia film itu biasanya sangat dihindari oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. 

Dan kalau kamu biasa nonton film nih, pasti bakal tahu sebuah film itu bagus atau ga sedikit banyak bisa diliat dari trailernya dan siapa yang ada di belakang layar film itu. Karena secara ga sadar kita sudah hapal, karakteristik sutradaranya, penulis naskahnya, bahkan produsernya. Sekali lagi bukan dari seberapa besar gimmicknya bergaung.

Kalau ada yang bilang, nggak nonton sama aja nggak support pemainnya, buat aku justru mengungkapkan apresiasi dgn jujur itu malah salah satu bentuk support sih, kenapa? Supaya artis idolanya bisa lebih belajar dan berkembang lagi, ga mandek. Ke depan dia akan pintar memilah job yang bagus untuk karirnya, ga asal pilih dan sekedar demi uang hingga mengorbankan harga dirinya. Lebih classy aja gitu. Kalau dia mau belajar terus, makin bagus makin berkualitas otomatis prestasi juga akan mengikuti, siapa yang nggak bangga jadi fansnya???

Dan, saat kamu nggak nonton, serius deh secara pendapatan si pemain nggak rugi, kan sudah dibayar. Bukan liat filmnya laku duluan baru dibayar kemudian. Kalau kita nggak nonton karena nggak  suka ada skandal semacam itu yaaaa yang rugi itu ya produsernya. Buat pelajaran, lain kali kalau bikin film yang bener. Dipikirin dari hulu sampai hilir. Produksi udah bagus eh promosinya "kosong" dibumbui gimmick ga jelas. Kita sudah terlalu capek dengan gimmick-gimmick nggak jelas di tivi masa iya mau dibawa ke bioskop yang notabene kita bayar buat nonton?? Ku rasa orang nggak bakal sebodoh itu deh buang duit. 

Say no lah to gimmick ga jelas yang nggak menghargai wanita. Ayo sebagai penonton kita ikut memajukan perfilman Indonesia dengan stop memberi kesempatan buat gimmick-gimmick ga jelas. Kita butuh karya bukan sensasi.

Salam
Arumi Wijaya

29 Januari 2018

Penanganan Kasus Hukum Untuk Anak di Bawah Umur

Beberapa waktu yg lalu, aku pernah "dititipi" tersangka kasus ranmor yang masih di bawah umur. Karena pak polisinya kasihan, anak yang sudah yatim piatu sejak kecil ini dititipkan kerja di warungku. Melihat anaknya serius hati ga tega, meski dari awal hati ud ga sreg karena menangkap "aura" ga jujur dari anak ini. Tapi ya sudah kuiyakan kuanggap menolong saja. Ternyata belum genap dua minggu dia mencuri uang di warung. Untung nggak banyak. Ya sudah kusangoni tak suruh pergi, ples diwarning sama pak polisi untuk ga berkeliaran di area Tembalang. Dari kasus anak ini aku belajar tentang penanganan kasus dengan pelaku di bawah umur yang beda dengan orang dewasa. Karena tampak polisi lebih tertutup dan tak ada media yang ramai meliput. Hanya beberapa dan tampak hati-hati sekali. Dan ternyata itu ada alasannya.

Berdasarkan Undang Undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, anak sebagai aset bangsa wajib dilindungi dan mendapat perlakuan khusus.

Amanat undang undang, anak merupakan aset bangsa, karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilindungi harkat dan martabatnya sebagai manusia seutuhnya. Maka negara wajib memberikan perlindungan khusus.

Ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam Undang undang tersebut.

1. anak anak yang bermasalah dengan hukum.
2. ‎anak anak korban kejahatan
3. ‎anak anak saksi yang menjadi saksi kejahatan.

Tertera dalam pasal 40, penyidik wajib memberitahukan kepada orangtua atau wali bahwa pelaku wajib mendapat pembela dan  dilakukan secara tertulis. Kalau tidak bisa membaca baru disampaikan secara lisan.

Apabila penyidik tidak melaksanakan perintah undang undang tersebut, maka penangkapan dan penahanan pelaku batal demi hukum.

Tak hanya itu, ancaman pidana juga mengintai penyidik yang tidak menjalankan prosesur Undang Undang Sistem Perlindungan Anak.

Berdasarkan pasal 98, penyidik yang dengan sengaja tidak melaksanakan ketentuan pasal 33 ayat (3) maka akan dipidana paling lama dua tahun.

Pasalnya berbunyi kewajiban untuk mengeluarkan tersangka dari tahanan apabila jangka waktu 15 hari proses penyelidikan dan penyidikan belum selesai.

Bukan hanya penyidik yang "diintai" ancaman pidana. Masyarakat umum dan media massa juga akan dijerat pidana selama maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 500 juta.

Berdasarkan pasal 11 identitas anak wajib dirahasiakan. Jadi setiap orang yang melanggar ketentuan itu dapat dipidana.
Ini perlu diketahui masyarakat agar tidak sembarangan menyebarkan identitas pelaku kejahatan yang masih di bawah umur.

Makanya untuk kasus besar seperti pembunuhan pengemudi taksol, aku nggak posting. Karena ada aturan tentang pemberitaam kasus semacam ini.

Yang menjadi kegelisahanku, harusnya rentang anak dianggap di bawah umur itu dikoreksi. Karena anak-anak jaman sekaran perkembangannya berbeda dengan jaman dulu. Ibarat dulu aku umur 16 masih polos ga neko-neko, jaman sekarang anak SD saja sudah seperti dewasa pacarannya. Intinya anak sekarang lebih cepat dewasa. Semoga akan ada koreksi, sehingga utk pelaku sadis di bawah umur semacam kasus kemarin bisa dihukum dengan lebih berat tanpa menggunakan aspek di bawah umur sebagai bahan memperingan hukuman.